Paket Umroh Murah Desember 2017, Agen
Umroh Murah 2017 Jakarta, Biro Umroh Murah 2018 Surabaya, Paket Umroh Murah 10
Juta, Paket Umroh Murah dan Terpercaya
Tata
Cara Pelaksanaan Umrah
Pertama:
Jika seseorang akan melaksanakan umrah, dianjurkan
untuk mempersiapkan diri sebelum berihram dengan mandi sebagaimana seorang yang
mandi junub, memakai wangi-wangian yang terbaik jika ada dan memakai pakaian
ihram.
Kedua:
Pakaian ihram bagi laki-laki berupa dua lembar kain
ihran yang berfungsi sebagai sarung dan penutup pundak. Adapun bagi wanita, ia
memakai pakaian yang telah disyari’atkan yang menutupi seluruh tubuhnya. Namun
tidak dibenarkan memakai cadar/ niqab (penutup wajahnya) dan tidak dibolehkan
memakai sarung tangan.
Ketiga:
Berihram dari miqat untuk dengan mengucapkan:
لَبَّيْكَ عُمْرَةً
“labbaik ‘umroh” (aku memenuhi panggilan-Mu untuk
menunaikan ibadah umrah).
Keempat:
Jika khawatir tidak dapat menyelesaikan umrah karena
sakit atau adanya penghalang lain, maka dibolehkan mengucapkan persyaratan
setelah mengucapkan kalimat di atas dengan mengatakan,
اللَّهُمَّ مَحِلِّي حَيْثُ حَبَسْتَنِي
“Allahumma mahilli haitsu habastani” (Ya Allah,
tempat tahallul di mana saja Engkau menahanku).
Dengan mengucapkan persyaratan ini—baik dalam umrah
maupun ketika haji–, jika seseorang terhalang untuk menyempurnakan manasiknya,
maka dia diperbolehkan bertahallalul dan tidak wajib membayar dam (menyembelih
seekor kambing).
Kelima:
Tidak ada alat khusus untuk berihram, namun jika
bertepatan dengan waktu shalat wajib, maka shalatlah lalu berihram setelah
shalat.
Keenam:
Setelah mengucapkan “talbiah umrah” (pada poin
ketiga), dilanjutkan dengan membaca dan memperbanyak talbiah berikut ini,
sambil mengeraskan suara bagi laki-laki dan lirih bagi perempuan hingga tiba di
Makkah:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ ، لَبَّيْكَ لَا شَرِيكَ
لَك لَبَّيْكَ ، إنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَك وَالْمُلْكَ لَا شَرِيكَ لَك
“Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syariika
laka labbaik. Innalhamda wan ni’mata, laka wal mulk, laa syariika lak”. (Aku
menjawab panggilan-Mu ya Allah, aku menjawab panggilan-Mu, aku menjawab
panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku
menjawab panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, kenikmatan dan kekuasaan
hanya milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu).
Ketujuh:
Jika memungkinkan, seseorang dianjurkan untuk mandi
sebelum masuk kota Makkah.
Kedelapan:
Masuk Masjidil Haram dengan mendahulukan kaki kanan
sambil membaca doa masuk masjid:
اللَّهُمَّ افْتَحْ لِى أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ.
“Allahummaf-tahlii abwaaba rohmatik” (Ya Allah,
bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu).[1]
Kesembilan:
Menuju ke Hajar Aswad, lalu menghadapnya sambil
membaca “Allahu akbar” atau “Bismillah Allahu akbar” lalu mengusapnya dengan
tangan kanan dan menciumnya. Jika tidak memungkinkan untuk menciumnya, maka
cukup dengan mengusapnya, lalu mencium tangan yang mengusap hajar Aswad. Jika
tidak memungkinkan untuk mengusapnya, maka cukup dengan memberi isyarat
kepadanya dengan tangan, namun tidak mencium tangan yang memberi isyarat. Ini
dilakukan pada setiap putaran thawaf.
Kesepuluh:
Kemudian, memulai thawaf umrah 7 putaran, dimulai
dari Hajar Aswad dan berakhir di Hajar Aswad pula. Dan disunnahkan berlari-lari
kecil pada 3 putaran pertama dan berjalan biasa pada 4 putaran terakhir.
Kesebelas:
Disunnahkan pula mengusap Rukun Yamani pada setiap
putaran thawaf. Namun tidak dianjurkan mencium rukun Yamani. Dan apabila tidak
memungkinkan untuk mengusapnya, maka tidak perlu memberi isyarat dengan tangan.
Keduabelas:
Ketika berada di antara Rukun Yamani dan Hajar
Aswad, disunnahkan membaca,
رَبَّنَا آَتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآَخِرَةِ
حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Robbana aatina fid dunya hasanah, wa fil aakhiroti
hasanah wa qina ‘adzaban naar” (Ya Rabb kami, karuniakanlah pada kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat serta selamatkanlah kami dari siksa neraka).
(QS. Al Baqarah: 201)
Ketigabelas:
Tidak ada dzikir atau bacaan tertentu pada waktu
thawaf, selain yang disebutkan pada no. 12. Dan seseorang yang thawaf boleh
membaca Al Qur’an atau do’a dan dzikir yang ia suka.
Keempatbelas:
Setelah thawaf, menutup kedua pundaknya, lalu menuju
ke makam Ibrahim sambil membaca,
وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى
“Wattakhodzu mim maqoomi ibroohiima musholla” (Dan
jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat) (QS. Al Baqarah: 125).
Kelimabelas:
Shalat sunnah thawaf dua raka’at di belakang Maqam
Ibrahim[2], pada rakaat pertama setelah membaca surat Al Fatihah, membaca surat
Al Kaafirun dan pada raka’at kedua setelah membaca Al Fatihah, membaca surat Al
Ikhlas.[3]
Keenambelas:
Setelah shalat disunnahkan minum air zam-zam dan
menyirami kepada dengannya.
Ketujuhbelas:
Kembali ke Hajar Aswad, bertakbir, lalu mengusap dan
menciumnya jika hal itu memungkinkan atau mengusapnya atau memberi isyarat
kepadanya.
SA’I UMRAH
Kedelapanbelas:
Kemudian, menuju ke Bukit Shafa untuk melaksanakan
sa’i umrah dan jika telah mendekati Shafa, membaca,
إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِنْ شَعَائِرِ اللَّهِ
“Innash shafaa wal marwata min sya’airillah” (Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah
sebagian dari syiar Allah) (QS. Al Baqarah: 158).
Lalu mengucapan,
نَبْدَأُ بِمَا بَدَأَ اللَّهُ بِهِ
“Nabda-u bimaa bada-allah bih”.
Kesembilanbelas:
Menaiki bukit Shafa, lalu menghadap ke arah Ka’bah
hingga melihatnya—jika hal itu memungkinkan—, kemudian membaca:
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ (3x)
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ لَهُ
الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِى وَيُمِيتُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ أَنْجَزَ وَعْدَهُ
وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ
“Allah Mahabesar, Allah Mahabesar, Allah Mahabesar.
(3x)
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya
Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya lah segala kerajaan dan
segala pujian untuk-Nya. Dia yang menghidupkan dan yang mematikan. Dia
Mahakuasa atas segala sesuatu.
Tiada sesembahan yang berhak disembah kecuali hanya
Allah semata. Dialah yang telah melaksanakan janji-Nya, menolong hamba-Nya dan
mengalahkan tentara sekutu dengan sendirian.”[4]
Keduapuluh:
Bacaan ini diulang tiga kali dan berdoa di antara pengulangan-pengulangan
itu dengan do’a apa saja yang dikehendaki.
Keduapuluhsatu:
Lalu turun dari Shafa dan berjalan menuju ke Marwah.
Keduapuluhdua:
Disunnahkan berlari-lari kecil dengan cepat dan
sungguh-sungguh di antara dua tanda lampu hijau yang beada di Mas’a (tempat
sa’i) bagi laki-laki, lalu berjalan biasa menuju Marwah dan menaikinya.
Keduapuluhtiga:
Setibanya di Marwah, kerjakanlah apa-apa yang
dikerjakan di Shafa, yaitu menghadap kiblat, bertakbir, membaca dzikir pada no.
19 dan berdo’a dengan do’a apa saja yang dikehendaki, perjalanan (dari Shafa ke
Marwah) dihitung satu putaran.
Keduapuluhempat:
Kemudian turunlah, lalu menuju ke Shafa dengan
berjalan di tempat yang ditentukan untuk berjalan dan berlari bagi laki-laki di
tempat yang ditentukan untuk berlari, lalu naik ke Shafa dan lakukan seperti
semula, dengan demikian terhitung dua putaran.
Keduapuluhlima:
Lakukanlah hal ini sampai tujuh kali dengan berakhir
di Marwah.
Keduapuluhenam:
Ketika sa’i, tidak ada dzikir-dzikir tertentu, maka
boleh berdzikir, berdo’a, atau membaca bacaan-bacaan yang dikehendaki.
Keduapuluhtujuh:
Jika membaca do’a ini:
اللَّهُمَّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ الأَعَزُّ الأَكْرَمُ
“Allahummaghfirli warham wa antal a’azzul akrom” (Ya
Rabbku, ampuni dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa dan
Maha Pemurah), tidaklah mengapa karena
telah diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud dan ‘Abdullah bin ‘Umar
radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya mereka membacanya ketika sa’i.
Keduapuluhdelapan:
Setelah sa’i, maka bertahallul dengan memendekkan
seluruh rambut kepala atau mencukur gundul, dan yang mencukur gundul itulah
yang lebih afdhal. Adapun bagi wanita, cukup dengan memotong rambutnya
sepanjang satu ruas jari.
Keduapuluhsembilan:
Setelah memotong atau mencukur rambut, maka
berakhirlah ibadah umrah dan Anda telah dibolehkan untuk mengerjakan hal-hal
yang tadinya dilarang ketika dalam keadaan ihram.
Demikianlah ringkasan amalan umrah yang merupakan
faedah dari Buku “Petunjuk Praktis Manasik Haji dan Umrah”, penulis Abu
Abdillah, terbitan Darul Falah.
Preparing one day before umroh, 4 Dzulqo’dah 1431 H,
in King Saud University, Riyadh, KSA
Muhammad Abduh Tuasikal
www.rumaysho.com
Paket Umroh Murah Desember 2017, Agen
Umroh Murah 2017 Jakarta, Biro Umroh Murah 2018 Surabaya, Paket Umroh Murah 10
Juta, Paket Umroh Murah dan Terpercaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar